Mengintip Wajah Perumahan di Ibukota

Posted: June 30, 2011 in Uncategorized

Siapa yang tidak tahu Ibukota Jakarta? Kota yang memiliki aktivitas tertinggi khususnya aktivitas perdagangan dan Jasa. Kota yang menjanjikan lapangan kerja dan kota yang memiliki segudang fasilitas. Tetapi, jangan pernah lupakan pepatah lama “Kejamnya Ibukota”. Mengapa? Karena dengan tinggal atau bekerja di Ibukota harus siap menghadapi Persaingan/kompetisi yang tinggi. Hal ini dapat dilihat dari gedung-gedung mewah pencakar langit yang saling berlomba-lomba ketinggian, belum lagi pusat belanja yang terhampar dimana-mana dengan segala macam tipe, bentuk dan promosi. Semua serba kompetisi. Tidak terkecuali untuk tinggal di Jakarta. Harga rumah yang tinggi akibat nilai tanah yang tinggi dan lokasi yang primary menjadikan Jakarta seakan-akan milik orang-orang yang memiliki “pohon duit”. Lalu, bagaimana wajah perumahan di Ibukota Jakarta ini??
Jika kita melihat sekilas pada Rencana Tata Ruang Wilayah Jakarta, struktur ruang perumahan sebagian besar berada di wilayah selatan, barat dan timur Jakarta. Dimana sebagian besar perumahan yang berkembang di wilayah tersebut sangatlah beragam, mulai dari perumahan menengah ke bawah sampai dengan perumahan menengah atas seperti Apartemen Mewah atau yang biasa di sebut kondominium, belum lagi perumahan-perumahan kumuh yang berada di pinggir rel kereta api dan pinggir sungai yang ada di wilayah barat, selatan dan timur Jakarta.
Di tengah-tengah hunian mewah seperti apartemen mewah juga terdapat rumah-rumah kumuh di baliknya. Hal itu terjadi di beberapa area, sebut saja Tanjung Duren, Kalibata, Pejaten, Grogol Petamburan, Rawa jati dan Cililitan. Di area-area tersebut terdapat banyak perumahan-perumahan mewah seperti apartemen ataupun town house, tapi tidak sedikit juga perumahan kumuh atau perumahan padat yang menempel di belakangnya. Hal ini sebenarnya menjadi sangat menarik untuk diamati. Biasanya, rumah-rumah mewah yang berkembang di antara perumahan padat bisa menjadi salah satu generator pembangkit ekonomi bagi orang-orang yang ada di sekitarnya. Biasanya mereka menjadi tenaga kerja bagi para penghuni di perumahan mewah tersebut atau menjadi pekerja di gedung bangunan apartemen mewah tersebut. Atau masyarakat/penghuni rumah-rumah kumuh di pinggir rel kereta api/sungai banyak juga yang mendapat peluang ekonomi dari bangunan-bangunan mewah apartemen tersebut. Biasanya mereka menjadi bagian dari sektor informal dengan catatan sering kali terjadinya konflik antara mereka dengan petugas/aparat keamanan.
Beragamnya jenis dan strata perumahan yang ada di Jakarta. Selain itu, banyak masyarakat di Kota Jakarta yang juga belum memiliki rumah, dimana mereka sebagian besar menyewa atau bahkan menempati bangunan-bangunan liar yang bukan milik mereka. Kondisi ini bisa di lihat di beberapa wilayah seperti di wilayah Penjaringan, Grogol Petamburan dan Rawa Jati. Tetapi anehnya, rumah-rumah kumuh tersebut tetap di support oleh utilitas yang cukup dari beberapa instansi.
Itulah sebagian wajah perumahan di Jakarta, meskipun dalam usaha pemenuhan hunian, beberapa program sudah diluncurkan oleh Pemprov DKI Jakarta untuk mengatasi masalah perumahan kumuh tersebut, salah satunya adalah dengan program Pemerintah Pusat (Menteri Perumahan Rakyat) yaitu membangun 1000 Menara Rumah Susun Milik dan Rumah Susun Sewa bagi masyarakat berpendapatan rendah.
Tetapi, lagi-lagi hal tersebut belum mampu menyelesaikan masalah penyediaan rumah bagi masyarakat berpendatan rendah khususnya memindahkan para penghuni di perumahan kumuh yang ada di Jakarta. Hal ini dikarenakan daya beli mereka yang tidak sampai untuk membeli/menyewa produk rumah yang diluncurkan oleh Pemprov tersebut.
Lalu, rumah seperti apa yang bisa terjangkau oleh daya beli mereka. Dengan mata pencaharian di sektor informal dapat kita perkiraan income/pendapatan yang mereka dapat per bulannya. Sementara itu, masalah penyediaan Rusunami/wa masih terus mengalami permasalahan khususnya mengenai Subsidi. Sementara itu, mereka yang tinggal di wilayah perumahan kumuh juga memiliki banyak permasalahan salah satunya adalah ancaman penggusuran karena mereka menempati lahan yang illegal. Atau, kondisi perumahan yang tidak layak untuk ditinggali. Sebenarnya, sudah ada program Perbaikan Kampung yang saat ini juga telah diluncurkan oleh Pemprov DKI Jakarta.
Program-program atau action plan yang telah di canangkan baik oleh Pemprov maupun Pemerintah Pusat (Kementerian Perumahan Rakyat) perlu diapresiasi, tetapi memang perlu adanya penyesuaian dan system yang lebih tepat untuk penyediaan rumah yang layak bagi masyarakat berpendatan rendah khususnya para migrant/pendatang yang dating ke Jakarta. Sehingga masalah penyediaan perumahan dan juga perumahan kumuh tidak menjadi beban Kota Jakarta yang menumpuk. Atau semoga saja, para migrant/pendatang bisa memberikan kontribusi bagi Kota Jakarta bukan hanya menambah permasalahan di Ibukota. Yah, mungkin ini adalah salah satu hal yang membuat para anggota DPR menggulirkan wacana pemindahan ibukota.

segala jenis tempat tinggal di Ibukota!😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s