Buswaay ooh..Buswaaay….bagaimana riwayat mu nanti??

Posted: October 28, 2011 in Uncategorized

JAKARTA, KOMPAS.com — Meningkatnya jumlah pengguna bus rapid transit (BRT) Transjakarta yang terus-menerus harus diikuti dengan sejumlah perbaikan layanan yang masih kedodoran. Dari hasil survei yang dilakukan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) terhadap 3.000 pengguna BRT Transjakarta, ada tujuh macam layanan yang harus diperbaiki.

Ketujuh layanan itu adalah:

(1) waktu tunggu yang lama, (2) jarak tempuh yang panjang, (3) keselamatan dan keamanan, (4) kenyamanan, (5) sistem informasi seperti jadwal dan tiket, (6) aksesibilitas halte yang belum optimal, seperti untuk penyandang cacat, jembatan penyeberangan orang (JPO) yang rusak dan panjang, (7) kebersihan di halte, JPO dan di dalam bus.

“Proyek BRT kita ini mencontoh dari Transmilenio di Bogota. Namun tidak semua dicontoh, akibatnya layanan BRT Transjakarta hanya minimalis,” kata Tulus Abadi, anggota YLKI, Kamis (27/10/2011).

______________________________________________________________________

Dugh,baca artikel diatas, rasanya miris sekali.. harus menerima fakta bahwa di kota terbesar di Indonesia, masih “stuck” sama yang namanya sistem transportasi, khususnya sistem transportasi massal. Sistem transportasi massal satu-satunya selain Kereta Api (KRL) yaitu BRT TransJakarta atau yang biasanya dikenal dengan sebutan Busway yang mulai dioperasikan pada tahun  2004 yl saat ini memasuki tahun ke-7 perjalanannya mengangkut kurang lebih 200juta jiwa penduduk Jakarta dan beberapa penglaju (commuter).

Dulu, Busway menjadi harapan akan terciptanya Jakarta yang lebih baik. Akan terjadi transformasi perubahan dalam bertransportasi. Akan terjadi juga perubahan dalam hidup berkota dengan dimulai-nya masyarakat menggunakan Transportasi umum. Tapi sayang, 1th, 2 th, 3th, 5th sampai dengan saat ini 7th, Busway belum juga bisa memecahkan masalah transportasi di Jakarta. Usaha yang dilakukan oleh DKI Jakarta utk peningkatan Busway dimulai dari penambahan koridor dimana s/d saat ini sudah terdapat >10 koridor.

Tetapi, usaha tersebut belum juga membangkitkan gairah masyarakat/warga untuk menggunakan fasilitas transportasi tersebut. Hasilnya, sistem transportasi BRT TransJakarta ternyata bukan solusi untuk mengendalikan kemacetan di ibukota. Tetapi, rasanya tidak bisa melulu menyalahkan Pemerintah, meskipun memang Pemerintah memiliki kewajiban untuk mengatasi masalah kemacetan tersebut. Uraian artikel Kompas diatas mengenai 7 keluhan pengguna busway mungkin juga hanya 70%-80% dari kekurangan sistem transportasi ini. Sisanya, 20% kembali lagi, rasanya masyarakat/warga ibukota yang harusnya bersikap “mengota” tidak bisa sinkron dengan kondisi yang ada. Sehingga timbullah 7 keluhan tersebut.

Ya, memang menggunakan Busway tidak lebih nyaman dan tidak lebih lancar serta tidak lebih murah dari menggunakan Transportasi umum seperti Mikrolet, Metromini, Kopaja atau Bus Regular. Tapi, selain kondisi Pemerintah yang tidak bisa melakukan perencanaan sistem Transportasi yang terintegrasi serta tidak bisa melakukan maintanance dan management transportasi, maka hal terakhir yang juga perlu disadari adalah Kesadaran masyarakat/warga untuk mensupport dan memelihara sistem transportasi umum di ibukota. Dengan begitu, mungkin kita sebagai warga akan lebih memiliki power untuk mem-push-up Pemerintah untuk melakukan perbaikan terhadap sistem trasnportasi kota.

Kita lihat saja nanti, bagaimana riwayat Busway nanti? Semoga tidak terdampar seperti bus-bus regular lainnya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s