MORATORIUM MAL DI JAKARTA?? TIDAK MASYALAAH.

Posted: November 16, 2011 in Uncategorized

TANGERANG, KOMPAS.com — Pemerintah DKI Jakarta menerapkan moratorium mal, yakni melarang pembangunan mal berluas lebih 5.000 meter persegi di Ibu Kota hingga 2012. Setidaknya hingga tahun depan, Jakarta harus puas dengan mal yang sudah ada. Toh, tampaknya mal tetap akan bertambah di tahun-tahun depan. Lembaga riset properti Colliers mencatat, di Jakarta selama 2012-2014 akan berdiri delapan hingga sembilan mal. Saat ini, separuhnya sedang dalam perencanaan (under planning). “Yang diresmikan sekarang cuma hasil bangun sejak lama saja,” kata Steve Sudijanto, Direktur Senior Pelayanan Ritel Colliers, Jumat (28/10/2011).

——————————————————————————————————————————————————————-

Membaca petikan artikel Kompas diatas mengenai pertumbuhan Mal atau pusat belanja yang masih akan terus bertambah jumlahnya membuat saya (yang saat ini sedang tidak ada kerjaan) ingin menulis, yaah..menumpahkan isi hati yang suka ngelindur tentang mal setiap sabtu minggu atau siang dan malam ketika pulang kantor/kampus. hehee

Terkenang akan studi yang pernah saya buat mengenai kompetisi mal di wilayah Jakarta yang kini juga sudah merambah di wilayah-wilayah pinggiran kota. Teringat juga akan beberapa studi teman-teman kampus mengenai perkembangan pengembangan pusat belanja. Memang pusat belanja (mal) masih memiliki potensi yang tinggi meskipun supply saat ini sudah hampir diatas rata-rata. Pesatnya pertumbuhan properti residensial merupakan salah satu pemacu pengembangan pusat belanja. Selain itu, saat ini juga terjadi perubahan jenis atau tipe pengembangan pusat belanja. Mungkin dulu, pengembangan pusat belanja bertumpu pada anchor tenant dan tenant-tenant yang pasti seperti Department Store, Supermarket, Fashion, dan Entertainment yang terbatas. Tapi, saat ini pusat belanja sudah lebih memiliki beragam tipe. Misalkan saja, ada pusat perbelanjaan yang menawarkan khusus barang-barang kebutuhan sehari-hari (Daily Needs) atau pusat perbelanjaan yang menawarkan khusus barang-barang elektronik atau barang2 rumah tangga. Meskipun didalamnya pasti ada komponen tenant mix (bauran penyewa).

Kembali ke masalah pertumbuhan pengembangan Mal yang semakin marak di Jakarta yang akhirnya membuat ‘gerah’ Pemda DKI Jakarta karena semakin banyak keluhan dan suara-suara bising masyarakat tentang over supply-nya Mal atau Pusat Perbelanjaan di Jakarta sehingga seperti artikel diatas, akhirnya Pemda DKI Jakarta mengeluarkan Moratorium untuk tidak lagi mengijinkan perkembangan Mal dengan luasan 5.000 m2. Tetapi, apakah itu menjadi penyelesaian? Sy pikir tidak. Karena sifat pasar, Mal itu tumbuh. Pasar dalam hal ini Market Demand untuk Mal cukup tinggi di Jakarta. Banyak para pengembang mengembangkan lahannya sebagai Mal karena memang memiliki faktor pasar yang kuat. Sementara, pasar pula yang mematikan mal tersebut, dimana terjadi kompetisi antara mal-mal yang ada. Bisa kita lihat, kompetisi yang terjadi di beberapa Lokasi Clustering Pusat Perbelanjaan di Jakarta seperti Mangga Dua, Senayan ataupun Blok M. Tetapi, apakah itu berarti menghentikan pengembang untuk membangun Mal? Tidak! Kompetisi itu justru membangkitkan pengembang/investor lainnya untuk mengambil alih mal yang mati tersebut. Lalu apa hubungannya dengan Moratorium? Moratorium hanya menghentikan pengembangan pusat perbelanjaan di atas 5.000 Ha, sementara Pemerintah tdk bisa melakukan evaluasi terhadap mal-mal yang sudah mati. Dimana, sebenarnya itu adalah salah satu kesempatan pemerintah untuk membentuk suatu perubahan terhadap mal yang sudah mati tersebut. Jd, bisa dikatakan bahwa Moratorium itu ‘semu’ adanya. Belum lagi, (ini yang paling gila menurut sy), pertumbuhan Retail yang bisa dikatakan pusat perbelanjaan skala lokal yang kini bertebaran dimana-mana. Hipermarket-hipermarket yang kini jg nampaknya bersaing dengan pusat belanja. Dengan ukuran yang lebih kecil 1.000 m2 – 3.000 m2, Retail-retail tsb terus masuk memenuhi ruang-ruang tanah di area-area berkembang di Jakarta. Sebut saja wilayah Kebayoran, Kemanggisan, atau pun Menteng/Tebet. Hal ini justru perlu menjadi perhatian daripada Pemda untuk menjaga ruang-ruang tersebut.

Yah..kalau dipikir-pikir, Moratorium (mungkin) hanya menjadi ‘wacana’ Pemerintah untuk ‘Pencitraan’ pada Masyarakat bahwa Pemda memiliki i’tikad baik untuk menjaga ruang kota dari muka-muka Kapitalisme. Tak apalah, toh Pemda pasti punya pembenaran-pembenaran untuk melakukan hal itu. No offense, ini mungkin hanya kesoktauan saya saja. Saya hanya melihat dari kondisi yang ada dan tengah berkembang yang saya cermati dan saya hubungkan dengan knowledge saya. Pastinya bisa benar, bisa salah. Tapi, walau bagaimana pun, perlu juga melakukan apresiasi atas kebijaksanaan Pemda untuk melakukan Moratorium Pusat Belanja. Untuk warga Jakarta, jangan sedih..karena pusat belanja akan selalu berkembang, meskipun bukan di Jakarta.. Masih ada pusat-pusat perbelanjaan di Pinggiran Jakarta yang (mungkin) susatu saat akan lebih keren, lebih lengkap dan lebih nyaman dari yang dimiliki oleh Jakarta.😉

Comments
  1. heri says:

    hai.. salam kenal. Saya heri, sbnrnya sya sedang mancari2 info mengenai gelar Magister of Real Estate, dan di google muncul halaman Linkedin Anda. Dari Linkedin anda saya menyengajakan diri untuk nyasar ke blog anda. Kebetulan saya juga punya blog jadi saya minta ijin untuk menyimpan alamat blog anda. Dan mungkin saya akan sering2 mampir ke blog anda untuk menambah pengetahuan saya khususnya tentang Magister of Real Estate. Saya harap, anda tidak berkeberatan, terima kasih banyak.

    • m3yriana says:

      Hi mas heri, salam kenal jg..
      Wuah,sy jarang apdet blog! Kebanyakan jg curhatan ajah.. Hehehee..
      Well,thx for visited!🙂

  2. heri says:

    oh gitu… klo gitu boleh mnt alamat FB nya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s